Rabu, 16 November 2011

PERAN SULUAH BENDANG MENGAJAK, MENDIDIK DAN MENGAMALKAN ISLAM

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Program pendidikan anak nagari sejak usia dini dapat dilakukan dengan nuansa surau. Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau.

Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali. Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan. Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.


Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi,
“Indak nan merah pado kundi,
indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi,
indak nan elok pado baso.

Anak ikan dimakan ikan,
gadang di tabek anak tanggiri,
ameh bukan pangkaik pun bukan,
budi sabuah nan diharagoi.

Dulang ameh baok balaie,
batang bodi baok pananti,
utang ameh buliah bababie,
utang budi dibaok mati.”.


Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;
1. IMAN,
2. ILMU,
3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,
4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah,
5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun),
6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Nagari sejak Usia DINI mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluah Bendang di tengah umat, yang dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;
1. Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,
2. Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.


Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da'wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

PELAKSANA DAKWAH ADALAH SETIAP MUSLIM

Setiap mukmin adalah umat da'wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani peribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

ISLAM MENDIDIKKAN KEPERIBADIAN

USWAH atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap peribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang. Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

Tidak diragukan lagi bahwa guru -- murabbi, muallim, – yang punya keperibadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka. Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap peribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai -- syahsiah -- murid. Tegasnya sahsiah mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang .

Langkah awal Pendidikan Berkarakter di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat -- terutama di Sumatera Barat, dengan tamaddun (adat budaya) Minangkabau -- pasti akan menemui satu iklim (mental climate) yang subur, yakni ada kekuatan agama dan adat resam istiadat serta budi bahasa yang baik. Beberapa model perlu dikembangkan di dalam pembinaan Ruhul Islam diantaranya pemurnian wawasan fiki dan mempertajam kekuatan zikir kemudian dilanjutkan dengan penajaman visi akhlak banagari. Mengembangkan keteladanan dengan uswah hasanah menanamkan sikap sabar dan selalu berbuat benar. Mesti pula dibiasakan memupuk rasa kasih sayang dan memperdalam spiritual religi. Bila itu ada, Insyaallah kendala atau tantangan perubahan zaman dapat diatasi.

Pengendali kemajuan sebenarnya adalah agama dan akhlak mulia yang mewarnai budaya bangsa. Budaya atau tamaddun bangsa yang selama ini telah berlaku turun temurun dalam masyarakat kita di Sumatera Barat – Minangkabau dengan tamaddun ABSSBK – yang terlihat jelas pada hubungan hidup dan kehidupan yang santun sopan sesuai bimbingan adat dan agama Islam.

Peranan pendidikan karakter dengan merujuk kepada Ruhul Islam sejak dulu adalah membawa umat kepada keadaan yang lebih baik kokoh aqidah serta qanaah (memelihara apa yang ada) dan bersikap konsisten (istiqamah).

Dalam gerakan "membangun kehidupan masyarakat yang beragama Islam secara shahih” tidak dapat tidak setiap peribadi akan menjadi pengikat dalam membentuk masyarakat yang lebih kuat. Sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif dalam kekuatan persaudaraan. Pemasyarakatan budaya dalam keseharian sesuai syari’at Islam, mesti bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul.

Maka pembinaan dan pelayanan masyarakat oleh siapa saja harus bertujuan kepada mencapai derajat peribadi taqwa, dalam hubungan hidup bermasyarakat sesuai tuntunan syariat Agama Islam. Mamutieh cando riak danau, tampak nan dari muko-muko, Batahun-tahun dalam lunau, namun nan intan bakilek juo.

Mengakarkan nilai nilai Ruhul Islam kedalam kehidupan masyarakat atau kelompok di Sumatera Barat -- Minangkabau -- mesti dengan penguasaan ilmu dengan ikatan akidah tauhid yang jelas. Generasi pelanjut bangsa mestinya dinamik yang mempunyai kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti. “Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi, Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiak-kan budi.”

Filosofi Hidup bermasyarakat di Minangkabau atau Sumatera Barat mesti diberi ruh oleh Islam. Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah, lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Bila ada kesediaan mengacu kepada prinsip-prinsip Kepemimpinan Rasulullah harus ada kesediaan memasukkan kedalam seluruh sisi kehidupan secara sikap amanah dan jujur.

Kejujuran dan sikap amanah diperlukan dimana saja dan berlaku universal. Sikap hidup ini dijabarkan dengan kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing yang menjadi kekuatan juga di dalam kegiatan wiraswasta dalam menghidupi kesejahteraan masyarakat keliling atau gerakan incorporated social responsibility.

Kekusutan dalam masyarakat dapat diatasi dengan komunikasi. Persoalan perilaku harus mendapatkan porsi yang besar. Diperlukan sosialisasi nilai-nilai Islam masuk ke dalam budaya kerja. Kekekrabatan dijaga dengan satu sistem pandangan cinta dalam kegiatan membangun yang dilandasi mencari redha Allah. Kekuatan Umat ada pada jati dirinya.

Shabar dan syukur adalah bukti nyata dari jiwa yang sadar beragama dan beriman tauhid. Disinilah letak kekuatan umat itu. Sabda Rasulullah SAW tentang sibghah orang Muslim itu diantaranya ,“Aku kagum kepada orang Islam, apabila ditimpa cobaan, dia ikhlas dan sabar, sebaliknya apabila memperoleh kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya orang Islam itu diberi pahala dalam segala hal, bahkan berkenaan dengan suap yang diangkatnya ke mulutnya. (HR. Baihaqi dari Sa’id).

Kemelut kehidupan bermasyarakat banyak dikacaukan oleh pengikut hawa nafsu yang terdiri dari kelompok manusia yang tidak mempunyai jiwa yang sadar. Mereka itu selalu suka melanggar hukum dan bersifat ghaflah atau lalai serta pula senang berbuat Maksiat. Peringatan Kitabullah amatlah jelas menyebutkan, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami”. (Lihat QS.7, Al A’raf ayat 179).

Mengaplikasi peringatan Allah ini maka peranan Pendidikan sistim Surau menjadi sangat signifikan didalam membangun dan mendidik generasi bersih yang beriman dan dinamik dalam gerakannya. Hal tersebut dapat dicapai dengan silabus pendidikan dan pemahaman agama yang benar. Melalui pendidikan sistim surau (halaqah) diharapkan terbinanya peribadi muslim yang kaffah (sempurna). Masyarakat keliling (lingkungan) akan memahami dan meyakini serta pula menerapkan aqidah iman yang istiqamah yakni konsisten menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. Insyaallah.

KEKUATAN PERPADUAN ADAT DAN SYARAK

Oleh H. Mas’oed Abidin

Berpedoman kepada Firman Allah menyatakan, “ Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13). Ayat ini menjelaskan bahwa berpuakpuak dan bersukusuku adalah satu tataran masyarakat agar tetap kuat. Kekuatan itu akan bertambah manakala diantara sukusuku dan puakpuak itu terjadi ta’aruf atau perkenalan dan hubungan kekerabatan yang erat. Hubungan itu dapat dilakukan melalui tali perkawinan dan pertemanan. Dalam masyarakat adat Minangkabau disebut sebagai ikatan kekerabatan ipar besan dan semenda menyemenda. Selanjutnya masing masing suku dan puak itu mempunyai perbedaan dan keunikan masing masing pula. Perbedaan dan keunikan dalam multikultural adalah kekayaan anugerah Allah. Semestinya dianggap sebagai satu hal yang wajar saja. Perebadaan yang ada seharusnya tidak menjadikan satu suku dan puak saling menjauh atau berbantahan. Akan tetapi semestoinya saling membantu dan saling menguatkan.

Nabi Muhammad SAW memesankan bahwa “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat” (Al Hadist). Fatwa adat di Minangkabau mengungkapkan “Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

MASYARAKAT Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat memiliki ciri khas dengan adat Minangkabau yang berfilososi kepada ABSSBK. Artinya masyarakat Sumatera Barat itu Beradat dan Beradab yang Beragama Islam. Kegiatan hidup bermasyarakat dalam kawasan ini selalu dipengaruhi oleh berbagai tatanan (system) pada berbagai tataran (structural levels). Yang paling mendasar tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya yang membentuk Pandangan Dunia dan Panduan Hidup (perspektif). Pandangan dan panduan hidup itu akan memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat nagari dalam kabupaten (kota) di Sumatera Barat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan dari masyarakat itu.

Disamping itu akan menjadi landasan pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yang melahirkan berbagai gerakan dan permainan serta produk budaya yang dikembangkan secara formal ataupun informal. Juga menjadi petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Kemudian tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya itu pula yang memberi ruang dan batasan-batasan bagi pengembangan kreatif potensi nagari dan penduduknya di Sumatera Barat dalam menghasilkan buah karya sosial dan produk budaya yang berdampak kepada peningkatan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual dalam keberagaman tambo yang tampak jelas sebagai folklore yang telah dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan Sumatera Barat di segala bidang.

Sebagai masyarakat beradat dengan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah (ABSSBK) maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pelajaran strategi dalam penerapannya.

Pertama, “Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan.” Islam menghendaki keseimbangan antara rohani dan jasmani. "Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist).

Keseimbangan di ranah ini terungkap dalam fatwa adatnya. “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

Dalam bimbingan syariat juga didapati pesan Rasulullah yang menyerukan "Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya" (Hadist).

Kedua, “Kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah.”. Allah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan". (QS.62, Al Jumu’ah : 10). Bimbingan ini mengajarkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit (Lihat QS.4, An Nisak : 97). Peringatan agama yang jelas ini diungkap di dalam petatah adatnya Karatau madang dihulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu dirumah paguno balun. Kemudian tentu harus ada upaya nyata meng-introdusir tenaga mereka kembali kemasyarakatnya. Agar mereka dapat merasakan denyut nadi kehidupan dan berurat kembali pada hati umat itu. Untuk itu ditanamkan pentingnya kehati-hatian “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

Dalam strategi membangun kekuatan tentulah berawal dari mengali potensi masyarakat hukum adat yang memiliki jati diri. Berupaya untuk tumbuh mandiri atau self help berusaha dengan tulang delapan kerat walau dengan memakai cara atau peralatan amat sederhana sekalipun pastilah akan "lebih terhormat" daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain. Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah. "Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)" (Hadist). Memahami ajaran adat dan agama dengan benar akan membuka peluang kepada semua orang dinegeri ini untuk maju dan berkiprah dengan baik dan saling berlomba kepada kebaikan. Insyaallah.

Menerapkan Nilai Nilai Adat dan Agama Islam menjadi utama dalam Sistim Kepemimpinan dengan filosofi ABSSBK

Oleh H.Mas’oed Abidin

Bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat. Semestinya sudah diajarkan adat dan agama Islam, karena nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK — terikat kuat dengan penghayatan Islam. Sikap jiwa dari masyarakat Minangkabau, mestinya tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam. Ada adagium yang tak boleh dilupakan, yaitu “Adat basandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah “ dan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”. Nilai-nilai budaya ini, menjadi pegangan hidup yang positif. Nilai itu pula akan mendorong dan menggerak setiap kegiatan masyarakat dalam bernagari. Nilai adat dan agama Islam itu melahirkan kebiasaan dalam mengembangkan kegiatan ekonomi. Nilai adat dan agama menumbuhkan sifat menghindar dari pemborosan dan kebiasaan menyimpan atau hidup berhemat juga memelihara modal supaya jangan hancur serta melihat jauh kedepan. Maka sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau menjadi kekuatan besar dari kekayaan budaya yang tidak ternilai besarnya.

Adat Minangkabau memang unik. Di tengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, sering juga ditemui beberapa kendala dalam menerapkan nilai-nilai syarak mangato adaik mamakaikan itu. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh terabaikan pewarisan nilai budaya Minangkabau itu. Disamping hubungan kekerabatan keluarga mulai menipis dan peran ninik mamak hanya sebatas seremonial. Posisi peran utama suluah bendang mulai kehilangan wibawa. Maka keunikan nilai-nilai ideal kehidupan budaya Minangkabau mesti dihidupkan terus. Terutama menumbuhkan rasa memiliki bersama. Menanamkan kesadaran akan hak milik kaum dan kesadaran atas suatu ikatan kekerabatan bernagari. Kesadaran bersuku serta memupuk kesediaan pengabdian dalam hubungan semenda menyemenda. Perlu pula dikuatkan ikatan bernagari memakai pola keseimbangan dan nilai keteladanan oleh semua tingkat kepemimpinan.

Kita memerlukan generasi yang handal. Beberapa sikap selalu dituntun oleh nilai-nilai iman dan taqwa. Memiliki daya kreatif dan innovatif. Menjalin kerja sama berdisiplin. Kritis dan dinamis serta memiliki vitalitas tinggi. Tidak mudah terbawa arus dan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan ini. Memahami nilai nilai budaya luhur ber makna punya jati diri yang jelas. Menjaga martabat serta patuh dan taat beragama. Mampu menjadi agen perubahan dengan motivasi yang bergantung kepada Allah. Mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual melahirkan sikap dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Kita memang merasakan secara pasti dan sadar bahwa akan terjadi pergeseran budaya ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama menumbuhkan penyakit social yang kronis. Perangai gemar berkorupsi tersebab aqidah tauhid melemah. Perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami karena kebiasaan suka melalaikan ibadah. Kelemahan disebabkan pembinaan akhlak sering diabaikan. Contoh nyatanya pendidikan surau hampir tiada lagi. Peran sistim pendidikan surau di rumah tangga juga melemah. Pendidikan akhlak berdasarkan prinsip budaya ABS-SBK menjadi kabur. Padahal janji Allah SWT sangat tepat. ”.. Apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi .. “. Dengan peringatan tegas ini sebenarnya pendidikan berkarakter itu mesti dilakukan.

Semua kita mengharapkan lahirnya masyarakat mandiri dan berprestasi. Pengendali kemajuan yang sebenar hanyalah agama dan budaya. Lebih tegasnya dalam budaya kita yakni tamaddun (ABS-SBK) telah berlaku turun temurun dalam masyarakat Minangkabau nyatanya telah teruji. Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat atau Minangkabau berakibat berubah perilaku dan tatanan masyarakatnya. Budaya adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah sebenarnya adalah “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)”. Mengabaikan nilai nilai adat dan agama Islam ini pasti akan mengundang maraknya penyakit masyarakat seperti pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas, kegemaran korupsi, narkoba, tindakan kriminal, pornografi dan pornoaksi serta perilaku anarkis yang merusak tatanan keamanan.

Maka peranan pemimpin mestinya menjadi suluah bendang (suluh yang menerangi) di Sumatera Barat dengan filosofi adat Minangkabau. Mempunyai sikap Tungku Tigo Sajarangan dalam membawa umat dengan informasi dan aktifitas kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah, istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari. Para pemimpin mestinya matang dengan visi dan misi bernagari. Dapat menggerakkan kebersamaan dan gotong royong berkualitas dengan iman dan hikmah. Mau melaksanakan amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar. Mereka juga dituntut bertindak dengan research oriented yang professional berteraskan iman dan ilmu pengetahuan. Tentu saja mesti mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat. Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango, Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memelihara bangsa kita. Wallahu’alamu bis-shawaab.

Sabtu, 23 April 2011

Nilai-nilai ajaran Islam mewajibkan mengimani Allah dan menghargai nikmatNya menjadi sumber rezeki, kekuatan dan kedamaian.

Pengikut hawa nafsu, adalah kelompok manusia yang tidak mempunyai jiwa yang sadar. Karena itu mereka akan Suka melanggar hukum, Bersifat ghaflah = lalai, dan selalu berbuat Maksiat.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).

Mengaplikasi peringatan ini, maka peranan Pendidikan Surau menjadi sangat signifikan membangun dan mendidik generasi bersih, beriman dan dinamik. Hal tersebut dapat dicapai dengan silabus pendidikan dan pemahaman agama yang benar, melalui pendidikan surau (halaqah), diharapkan terbinanya peribadi muslim yang kaffah (sempurna).

Masyarakat keliling (lingkungan) akan memahami, meyakini, dan menerapkan aqidah iman yang istiqamah, konsisten menjauhi perbuatan dosa dan maksiat.

Keberhasilan Pendidikan Surau pada menetapi ibadah Islam dalam kehidupan seharian dan berakhlak yang beradat serta terjauh dari perbuatan maksiat.

Pembelajaran Sistim Halaqah di Surau meliputi silabus Aqidah, Akhlaq, Fiqh dan Kewaspadaan Umat. Semua bimbingan Kitabullah menekankan adab pergaulan antar manusia yang di ikat hubungan kasih dengan khalik Maha Pencipta, ujudnya dengan ibadah dan sikap hidup tawakkal dan bertaqwa.

Tujuan Umum Pendidikan Surau model halaqah = sistim kelompok mengokohkan pengawasan akhlaq umat melalui domain ruhiyah (ranah rohani) yang memberi warna (sibghah) dalam komunitas dengan memiliki perilaku (sahsiah akhlak) mulia (karimah), dalam masyarakat yang mencintai masjid, mendalami ilmu, menghidupkan kerukunan lingkungan yang di dukung oleh rumah tangga yang bersih.

Akhlak adalah konsep perangai dari Khalik.
Akhlak adalah jembatan makhluk dengan Khaliknya.
Hidup tidak berakhlak menjadikan kehidupan tidak akan bermanfaat, serta di akhirat merugi.
Akhlaq, meliputi akhlaq kepada Allah, kepada tetangga, sama besar, lebih muda, kepada lawan jenis, berbeda agama, lingkungan, guru, orang lebih tua, dan kepada ibu bapa.

حَقُّ الوَلَدِ عَلىَ وَالِدِهِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَ أَدَبَهُ، وَ أَنْ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَ السِّبَاحَةَ وَ الرِّمَايَةَ، وَ أَنْ لاَ يَرْزُقَهُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَ أَنْ يُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ. (رواه الحكيم(
Kewajiban ayah kepada anaknya, supaya memberinya nama yang baik dan pendidikan budi pekerti yang baik, mengajarnya tulis baca, berenang dan memanah (keterampilan dan kemampuan membela diri dan bela wathani), memberinya makanan yang baik dan mengawinkannya apabila telah dewasa. (HR. Hakim).

ياَ غُلاَمُ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَ إِذَا سَأَلَكَ فَاسْأَلِ اللهَ تَعَالىَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ )رواه الترذي(
Pemuda! Jagalah (perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, nanti engkau akan mendapati penjagaan-Nya di hadapan engkau. Apabila engkau menanya, tanyalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla. (HR. Tirmidzi).

Nilai-nilai ajaran Islam mewajibkan mengimani Allah dan menghargai nikmatNya menjadi sumber rezeki, kekuatan dan kedamaian.

Pengamalan syari’at dengan tauhid yang benar di tengah keluarga akan menjauhkan semua bentuk kemaksiatan.
Tujuannya jelas, yaitu : membina, mengembangkan potensi da’wah berperilaku Islami di tengah kehidupan anak nagari.
Akhlak mulia mendorong nagari maju bermartabat dengan minat terarah dan terbimbing pandai bersyukur.
Anak bangsa yang tidak menjaga budi akhlak akan mengalami kehancuran, punahnya adat luhur, lenyapnya keyakinan & lunturnya budaya bangsa.

Materi Pembelajaran penguatan Aqidah, meliputi Arkanul Iman, Iman kepada Allah, Iman kepada Rasul, Malaikat, Kitabullah, Hari Akhirat dan Takrif kebenaran, Hakikat Dinul Islam, Ikhtiar dan Taqdir.


Mencakup berbagai pengetahuan terapan masyarakat pengguna sistim surau dimaksud. (1). Aqidah ; Melahirkan sikap mahabbah, cinta kasih yang mendalam kepada Allah. Menumbuhkan sikap redha, ikhlas, ihsan dan disiplin dengan arkanul iman. Menyuburkan sikap setia, syukur, sabar dan disiplin, yang melahirkan sikap tidak putus asa, istiqamah dengan ketentuan Allah.

(2). Fiqh Sirah dan Tarikh Islam ; Urgensi dari sirah nabawiyah serta Perkembangan Ilmu Pengetahuan tentang Islam di Nusantara.

(3). Prospek dan Tujuan Pendidikan Surau Sistim Halaqah ;
a. Memahami landasan masyarakat ABS-SBK,
b. Kaderisasi risalah da’wah Islamiyah di Minangkabau.
c. Menghidupkan prinsip ta'awun, bersama.
d. Pembaruan masyarakat Minangkabau.
e. Pendidikan kemampuan
(kompetensi) adat, bahasa tutur dan tulisan Arab Melayu.
f. Membina, memahami, meyakini sistem keluarga Islam dalam kehidupan.
g. Membentuk generasi berbudaya dan berakhlaq mulia di ranah Minangkabau
(Sumatera Barat).